SAJIAN PUISI ARISEL BA
Saturday, February 07, 2004
 
TASIK SUBARI*
: Sebahagian dari Sungai Fujikoto di Jepun
Puisi Arisel Ba

tasik itu tiba-tiba mampir di depan mata ini
kilatan sisik ikan mas menghantar makna pelbagai
dan wajahku terserlah di dasarmu berwarna pelangi

ada khabar menyelinap di lereng pergunungan
ada dupa berasap gelisah meresap ke dalam batin
kicauan burung dan desingan unggas tanpa jeda
aku membaca resah menyelinap di wajah senja

nyanyi riak tasik ini menggoncang dada jantanku
kapan aku menumpang awan berarak ke tasikku

7 Februari 2004
Kuantan, Pahang



 
NYAWA ATAU NYAMAN?
: dari emel seorang teman di Bandung, Indonesia
Sajen Arisel Ba

Di sebuah desa di Bandung, Indonesia
Tinggal kesepian seorang janda kaya
Suaminya telah mati di Pahang, Malaysia

Dari hasil hantaran wang setiap bulan
Isterinya di desa itu menjadi hartawan
Malangnya si janda kaya tiada berketurunan

Penampilan si janda kaya amat mengghairahkan
Menjadi siulan setiap lelaki melalui halaman.
Didesa itu juga ada seorang pemuda jemuan
Kerjayanya mencuri wang rupiah dan pakaian

Suatu malam si jemuan mulakan rencana jahatnya
Dia akhirnya berjaya memasuki rumah si janda
Melalui bumbung betul-betul di kamar tidurnya

Apabila si jemuan sudah berada di kamar si janda
Dia melihat si janda sedang tidur berbolen
Dalam hati bajingan itu tumbuh niat yang lain
Dia melangkah menghampir katil si janda

Si janda terkejut terasa ada jari merayap di tubuhnya
Si janda menjerit, segera bajingan menekup mulutnya
Dan mengacukan parang berkilat mengancam si janda
" Jangan menjerit kalo kamu mau aman,
nah kamu pilih, nyawa atau nyaman?…"

Setelah digertak si janda menggigil dan giris
Dengan suara tercungap-cungap lemas:
" Nyaman aje mas!… "

Bila nafsunya puas si jemuan bergegas mau pergi
Niat untuk memencuri wang rupiah sudah dilupai
Ketika memakai celana, parang tertinggal di lantai
Si janda menyambar parang acukan ke leher pencuri

" Mau kemana kamu, sih ", si janda bersuara nyaring
" Pulang….," jawab si pemuda takut dan gamang
Si janda membentak "Mau Pulang atau mau ulang?…"

6 Februari 2004,
Kuantan, Pahang

Tuesday, February 03, 2004
 
GEJALA ORANG KL 4
Sajen Arisel Ba

Pada suatu hari di Jalan Raja Muda
Empat lelaki bercerita kisah isteri masing-masing
Sambil 10 telinga mereka menangkap suara
Tukang ubat kuat mempromosi majun lintah gunung

Lelaki pertama mula bercerita,
"Isteri aku semalam beli dua kilo daging rusa
Padahal sehari kami cuma makan sedikit saja.
Lebih teruk... peti sejuk kami tidak ada".

Lelaki kedua menyampuk,
"Sama macam isteri aku kemaruk.
Semalam dia beli ‘king size’ kain cadar,
padahal kami tiada katil besar".

Lelaki ketiga pula berkata,
"Sama. Isteri aku terpengaruh diskaun harga
dia membeli penyedut debu berjenama,
sedangkan kami tiada karpet atau sofa".

Lelaki keempat bercerita dengan wajah muram,
"Memang, perempuan!, mereka tak berfikir panjang.
Ketika isteri aku meluap api cemburu, meradang
Lalu ditolak kereta aku ke dalam kolam

3 Februari 2004
Kuantan, Pahang



 
MENGUTIP BEBAYANG
Puisi Arisel Ba

Apakah sempat aku membalut keris ini
Tatkala aku menulis puisi historigrafi?
Mentari di ufuk senja semakin cemburu
Pada sang bulan setinggi galah di graha kami
Ketika isteriku membuka kidung berahinya
Dadaku bergemuruh meletus dendam semalam
Kami terumbang-ambing dilamun badai hitam
Dan setiap kali kilatan petir singgah di jendela
Aku menyiapkan sebuah puisi berahi
Kering emosi menanti gerimis sampai pagi
Aku masih mengancung keris terhunus
Dan darah amarah mengucur di jantungnya
Di telaga batini aku mengutip bebayang kami
Tertinggal di sela-sela leca, menangis…

3 Februari 2004
Kuantan, Pahang



Monday, February 02, 2004
 
PAMPHLET OF DARUL MAKMUR
Poem by Arisel Ba
Translated by Airmas_sz

In the era of Zamin Eran and Inderapura
South China Sea nurture the rage
The Tioman Island carving legend
Cini Lake and Bera Lake destination of a journey
Pahang rivers, Jelai, Tembeling with swift current
Cherating shore, Cempedak gulf with lovely beach
Tahan Mountain, Benom Mountain strongly robust
Gelanggi Fort Cave, Senyum Mountain stories of mystery
Kuala Lipis, Cenor, Pekan assigns bloody history

Pahang's Warrior their histories trilling
Notable Bahaman, Tok Gajah, Mat Kilau, Panglima Muda Jempol
In British era defame by coloniser as a rebel
Prominent Ibrahim Yaakub, Ishak Haji Muhammad
Glorious pre-independent Philosophers and poets
Tun Abdul Razak, Abdul Rahman Talib prince of development
Patriotic fighter architects of education with vision
S.Romainor, Sarimah, Sudirman, Siti Nurhaliza
Famed artists idolise by all
Ahmad Kotot, Keris Mas, Ibrahim Omar deliver deed
Eminent laureate brave generating national culture

Drink it, have a bath in water of Pahang river source comes from Jelai, Tembeling, Lipis, Semantan with dragon's tail
Peek at the tragic Terua Depth, Tawar Island, Lintang Mountain
Be nostalgic at Gebuk Hill, Pelang Depth, Mentenang Depth
Peered at Betong Hill, Jong Hill, Old Pahang, Gancong
Evaluate history of Ampai Stream, Koi Stream, Pinang Orchard
Segumpal Hill, Paku Depth, Lamir and Langgar telling story
Have a bath with cold water of Cini Lake and Bera Lake
Climbing to Benom Mountain and Tahan Mountain with skill
At Senyum Mountain and Gelanggi Fort Cave gazing spiritual knowledgeIn Guai, Kawah Depth and Berhala Gantang learn with realism

Let lime-wash the heritage Dagger, spear, benzoin exclaim
For the sake of Islam, deserted Malay soul of Darul Makmur soil
Combating colonisation of borderless globalisation
Everyday emit news of citizen in the firmament
Seven storms from seven oceans, four angle of wind
Darul Makmur strongly robust in the eyes of the world
Darul Makmur in reputable history

September 8 2001 - February 1 2004, Kuantan, Pahang

 
GAYA DALAM PENUKANGAN SAJEN:
ANTARA HUMOR DAN SERIUS?

Oleh: Arisel Ba

PRAKATA:

“ Berapa kalikah kita mengeluh setelah selesai membaca sebuah novel bahawa yang diberikan itu tidak menambah apa-apa pun kepada pengelaman hidup kita? “ demikian tanya Dr Muhamad Haji Salleh dalam bukunya Cermin Diri (1986:141). Pertanyaan itu dijawabnya beliau sebagai berikut: “ Sastera tradisional seperti sastera universal harus membijaksanakan, menolong kita menghayati hidup dengan lebih peka, mempelajari tentang alam dan manusia yang tidak diketahui sebelum itu, atau jika diketahuinya tidak sedalam yang disampaikan oleh sasterawan.” Saya sitir ungkapan di atas walaupun khas untuk novel tetapi rasanya ia juga sesuai dalam memperkatakan sajen.

GAYA DALAM PENUKANGAN SAJEN:
ANTARA HUMOR DAN SERIUS?

Gaya (style) berasal dari bahasa Latin, maknanya sebagai cara penerapan menulis (writing implement). Cara seseorang menulis merupakan cerminan atau ekspresi karakter seseorang. Ekspresi seperti ini yang merupakan cikal bakal teori eskpresi yang berpengaruh dalam sejarah estetika, yang juga disebut teori tanda tangan, artinya karya
seseorang mencerminkan kepribadian (atau karakter) seseorang. Suatu desain adalah expresi dari karakter desainernya. Gaya seseorang dapat dipelajari untuk ditiru dan dipakai. Dengan demikian, dalam konteks ini, gaya bersifat publik, tidak individual.

Gaya dalam citraan retorika adalah bahan baku atau salah satu factor penting dalam memproduksi karya artistik. Seorang seniman dapat memilih gaya yang ada untuk dijadikan media ekspresi karya-karyanya, atau menggabungkan (hibrid) gaya desain yang ada ke dalam bentuk baru. Hal yang terakhir ini melahirkan gaya baru yang sering ditemui dalam sejarah desain seperti neo-klasisisme (menggabungkan desain klasik dengan pendekatan baru), Victorian Gothic (menggabungkan gaya Victoria dengan gaya Gothic) dan seterusnya termasuk bila desainer menggunakan pengaruh gaya desain di luar konteks Eropah seperti dari Cina (chinoiserie) atau Jepun.

Nicos Hadjinicolaou menjelaskan gaya sebagai bentuk tertentu dari keseluruhan ideologi suatu kelas sosial. Ia sebenarnya lebih memilih istilah ideologi visual untuk menjelaskan gaya kerana gaya sebenarnya merupakan ideologi yang divisualisasikan. Dengan memahami perubahan penggayaan yang terjadi dalam perjalanan waktu, seseorang dapat
memahami kunci dari evolusi kebudayaan.

Dalam A Modern Book of Aethetic (Melvin Rader, 1960), Meyer Shapiro, seorang sejarawan seni terkemuka Amerika, mendefinisikan gaya sebagai berikut:

By style is meant the constant form V and sometimes the constant element, qualities and expression V in the art of an individual or a groupV style is, above all, a system of forms K the description of a style refers to three aspects of art: form elements or motives, form relationships, and qualities (including an all-over quality which we may call (expression).

Definisi gaya di atas menunjukkan ciri-ciri pokok yang umumnya terdapat
atau kerananya membentuk suatu gaya, yaitu adanya suatu bentuk tertentu
yang konstan V terus menerus dipakai dalam menciptakan suatu karya yang
terdiri dari elemen bentuk, kualiti dan ekspresi.

Gaya desain memiliki siklus hidupnya seperti juga hal lain yang terdiri dari lahir/masa muda/matang (klimak) anti klimak/menurun dan mati. Sering juga dianalisis dengan cara lain seperti awal, pertengahan dan akhir. Sering juga dihubungkan dengan menggunakan batasan moral seperti dekadensi.

Pada satu sisi, gaya dipandang sebagai suatu ekspresi individual dari seseorang, tapi pada sisi lain, juga merupakan ekspresi dari suatu kelompok sosial. Bagaimana keduanya boleh digabungkan? Ambil contoh, semua orang Malaysia dari berbagai suku bangsa berbicara bahasa Melayu. Masing-masing memiliki ciri atau karakter khasnya masing-masing yang disebut idolek dan pengucapan yang variatif tergantung wilayah masing-masing termasuk aksen dan dialek. Dengan cara seperti ini kita semua menggunakan bahasa Malayu dalam bentuk individual atau kelompok dari gaya yang umum. Dengan contoh seperti ini dapat dilihat bahwa gaya tidak lagi bersifat individual, kerana meski lukisan gaya Kubisme merupakan pencapaian tertinggi Pablo Picasso, ia bekerja bersama dengan Braque dan Gris. Untuk membedakan karya Picasso dan Braque akan sangat
sulit kerana keduanya sama-sama mengembangkan Kubisme.

Kerana proses kreatif yang dikembangkan terus menerus oleh seorang seniman, membuatnya seringkali merubah gayanya dalam berkarya. Seperti Picasso yang terus-menerus bereksperimen yang sering menggunakan lebih dari satu gaya secara simultan. Bila kita menganggap bahwa suatu gaya adalah ekspresi pribadi seniman, akan menjadi sulit bila perubahan gaya ini lalu dianggap perubahan kepribadian sang seniman secara radikal. Perubahan gaya ini sedikit banyak memiliki hubungan dengan perubahan
kepribadian sang seniman. Gaya dalam hal ini juga dapat menjembatani pemahaman terhadap psikologi seseorang, suatu kelompok atau suatu bangsa.

Gottfried Semper (John A. Walker, 1989:161) mencuba membuat rumus algebra untuk menjelaskan gaya dengan rumus: ƒ×= F (x, y,z, dan lain-lain). ƒ×= gaya, F= fungsi atau peruntukan, x, y,z, dan lain-lain = faktor-faktor lain seperti material, alat, bahasa, agama, karakter seniman, dan lain-lain yang kombinasinya menentukan aspek yang diperlukan. Semper percaya bahwa faktor-faktornya dapat berubah sesuai waktu, tapi keperluan manusia tetap sama, sehingga fungsi tidak berubah seperti faktor-faktornya.

Kesimpulan dari tanggapan Semper itu, jika membicarakan soal gaya dalam sajen, ia bukan semestinya seratus peratus humor, tetapi ianya diwajarkan tergabung dalam humor itu ada serius tetapi dalam serius tidak akan tumbuh rasa humor. Melalui laman sajen ini adalah diharapkan penulis sajen meneroka dunia sajen dengan darahnya pada tubuh sajen itu dari kategori humor manakala vitaminnya atau serbuk perasanya adalah keseriusan dari segi bahasa, diksi, pola nada dan irama serta isi atau maksud sajen itu ada terselit kebijaksanaan.

TANGGAPAN:

Dalam tempoh masa 19 hari ( dari 12.1.04 hingga 31.1.04 ), seramai 169 ahli yang melayari Laman Sajen di Komuniti E-Sastera mungkin telah membaca 20 buah sajen yang ditulis oleh sembilan Pensajen. Dari 20 buah sajen, saya akan menebak tanggap 19 sajen sahaja kerana Sajen ‘Dari Cerita Nenek 1’ adalah karya saya sebagai administrator Laman Sajen.

Sebelum saya menebak tanggap 19 sajen yang tampil dengan takbermalunya itu, izinkan saya menyatakan bahawa sajen (sajak jenaka) harus menyatakan kelucuan atau lelucun atau kejenakaan yang mampu menerbitkan rasa senang atau seronok. Kemahiran pensajen harus mempamerkan kecekapan dalam mengamati, memahami atau menyatakan sesuatu yang menyenangkan, yang lantas menghasilkan pula gelak ketawa (sekurang-kurangnya geli geleman dalam hati atau geli hati. Sajen harus terbina dalam pelbagai gaya dan desain hasil daripada pengenalan atau pernyataan keanehan atau kemustahilan yang timbul dalam suatu suara dan perlakuan tertentu. Dan saya amat berharap bahawa sajen bukanlah selamanya berupa sesuatu yang polos, ringan dan menggelikan hati kerana sajen juga mampu memancarkan fikiran dan kiasan disebalik gaya dan nada kelucuannya.

Hasimah Harus tampil dengan sajen ‘PD’ pada 12.1.04 untuk mengalu-alukan perlantikan Abdul Latip sebagai administrator laman Cerpen, katanya:

"Helo, administrator
saya nak bawa radio dan CD!"
akan kami bawa kaca mata gelap dan topi
pen dan kertas juga tak dilupa
sambil berdarmawisata, puisi ditulis juga
di bawah deburan selat.
"Helo. ya... saya di jelebu
untuk ke Parti Durian
jangan tersesat seperti muhamadzakir dulu
sesat di seremban, dia cari jalan pulang."
Oh, rupa-rupanya PD tu Parti Durian
ya salam...
"Helo, jumpa di PD, ya?"
"Eh, nanti... tuan administrator
PD yang mana satu?"
aku buat-buat lupa.
Tapi tetaplah kami akan datang
meraikan Abdullatip, administrator baru.

Pada 12.1.04, Muhd Zakir menulis ‘Panglima Airmas_sz dan MuhammadZakir’ sajen sindir menyindir dengan beliau membalas usikan Airmas_sz sebelumnya dengan berkata:

Panglima Andika Kelakar gelar Airmas_sz
Panglima Bengis Sungguh gelar Muhamad Zakir
Dua panglima berpendekar raja terkenal kacak segak
Seorang bujang ada isteri seorang bujang tiada isteri

Pada 12.1.04. Airmas_sz pula menulis ‘Hikayat Pengembaraan Panglima Bengis’ dengan melontarkan sindiran kepada Muhd. Zakir, katanya:

Arakian tersebut kisah pengembaraan
Panglima bengis yang amat sangat katanya
Hinggakan seluruh gadis dikatanya
Menjadi takut mendengar namanya
Sekalian dikhabarkan namanya
Habis semua pengsan kerana tak tertahan geli ketiak
Kerana gelaran bengis itu sandaran yang tidak bermakna
Kalakian hanya ciptaan empunya sahaja
Kerana tidak mahu dirinya di punya
Takut nanti kena gosok periuk, basuh kain setiap masa
Yang di kala ini dikatakan queen kontrol namanya
Ataupun di bawah kawalan permaisuri

Pada 14.1.04, Haimarea menulis ‘ Demi Negara ‘ mengenai angan-angan untuk menjadi pelumba, angkasawan dan pendaki, tetapi ianya tinggal angan-angan, katanya:

Daku dipelawa daiki Everest ikut Muqharabbin
jejak golongan-golongan elit negarawan
Terharu terus ku kata pergilah kawan
doaku mengiringi ke puncak kejayaan
Salam rerumput buat Raja Banjaran
Bukan,
Bukan kerana mataku kabur, merabun perlahan
Apalah lapan tingkat tangga belapan
Empat tingkat, delapan anak tangga pun
Pandanganku jadi kabur, nafas sesak nak pengsan

Pada 14.1.04 Muhd. Zakir terus membalas sindiran dengan menulis ‘ Panglima Bengis Bertukar Nama’ berkait dengan si bujak yang belum menikah, tulisnya:

Panglima Airmas_sz pembuka kelakar,
Mengenalkan Panglima Bengis Sungguh dengan Negeri Banyak Anak Dara,
Mula-mula malu-malu,
Lama-lama rindu-rindu,
Panglima Bengis Sungguh dipinang sindir berlapik,
Puas menepis ilmu perisai cinta mawar berdozen kuntum,
Yang mana satu pilihan berumahtangga,
Masalah memeningkan kerana terpaksa memilih calon,
Angkara Panglima Airmas_sz pembuka madah,
Siang malam Panglima Bengis dikejar dara jelita,
Bertukar nama menjadi Panglima Segak Igauan Anak Dara....

Tampil pada 14.1.04 Abdul Atan Din dengan sajen ‘Kolej Kedua’ yang mengisahkan bahawa Kolej Kedua bukan di UM tetapi di UPM, dengan nada gurauan beliau berkata:

Wajah-wajah penyair jemputan begitu asing.
Aku canggung bagai tersisih.
Tiada Muhammad Zakir tiada Gravesdigger atau Nimoizty.
Tiada Anjan yang comel atau Dahrie si pembaca mentera.
Tiada Sri Diah yang mashyur dengan "kerikil berbaring"nya.
atau Ibu Alaieffa Tauke Restoran dari Seri Begawan.
Tiada Anbakri yang romantis lewat "surat-surat tak terhantar"nya.
Tiada Pak Latip Raja Lemang,
atau Pak Arisel Demang Lubuk penuh ikan .
Pak Engku yang kaya madah pun entah di mana.
Terkilas juga wajah Airmas_sz tapi salah orang rupanya.
Jerit-jerit juga nama Dr.Victor, tiada satupun sahutku berjawab.

Pelik tapi benar, wajah-wajah asing itu aku kenal namanya
Rentak gendang dipalu Aripin Said amat sedap bunyinya
Itu belum fasih Lim Swee Tin dengan pengucapan alamnya.
Oh Pak Arbak Osman pun tak kurang hebat.
"Di denyut pertemuan" Dharmawijaya terhimpun syahdu.

Pada 14.1.04 muncul pula Abdul Latip menyambut balas membalas sajen antara Muhd. Zakir dan Airmas-sz dengan sajennya ‘ PANGLIMA BENGIS NAK TUKAR JANTINA ‘ dengan berkata:

Kata panglima bengis
dia dah popular kerana publisiti panglima airmas
Setiap hari dia dikerumun gadis cantik
Ada sanggup datang ke rumah
Ada ajak dating
Ada nak masuk meminang
Panglima bengis jadi lebih pemalu
Pobia takut kawin makin menjadi
Akhirnya panglima bengis ambil keputusan
berlepas ke luar negara hujung bulan ini
melanjutkan pelajaran dijadikan alasan
Tapi yang sebenarnya
Panglima bengis nak tukar jantina

Pada 15.1.04 Airmas-sz terus menyindir Muhd Zakir dengan sajen ‘Lari panglima lari’ katanya:

Gempar bergegar satu cakrawala
mendengar berita yang bergema
Dari palu-paluan gendang panglima
Panglima bengis yang malu tapi mahu
Konon cerita hendak membawa diri
Lari jauh ke negeri atas angin
Lari mencari ketenangan dalam diri
Konon jadi buruan gadis-gadis

Kemudian Airmas_sz terus menyambung gurauannya dengan sajen ‘Syarat datuk menteri’ tulisnya:

Mengaru-garu kepala panglima bengis
Akan apakah syarat-syaratnya
Hendak menjadi warganegara
Yang bermenterikan datuk menteri abdlatif
Syahdan di keluarkan gajah diraja
Membawa titah datuk menteri
Dan dicananglah seluruh negeri
Syarat kelayakan yang di tunggu-tunggu
Sebagai ufti datuk menteri
Untuk menjadi warganegara
Di minta semua rakyat jelata
Mengarang cerita pendek tiga serangkai

Pada 18.1.04 Gravesdigger mengisahkan tentang ‘BUNTUT’ iaitu kenapa menjadi buntut kepada Bush dan Blair?, tulisnya:

Buntut tidak pernah ke depan
Buntut tidak akan jadi pemimpin
Buntut hanya menyesuaikan diri dengan kepala
Hmm….!

Kita adalah buntut…
Kita adalah buntut Pak Cik SAM
Kita adalah buntut Mat Salih
Ah-ha…!

Marilah kita terbalikkan
Bush dan gengnya buntut kita
Blair dan juaknya tandas kita
Wow !

Muncul Hasimah Harun pada 18.1.04 dengan sajen ‘ OGHE KITO ‘ yang mengalu-alukan perlantikan Dahri sebagai administrator Berbicara, katanya:

Lilit leher dibelit mafela
oghe kito... dari Besut asalnya
kecek Kelate mace kito
dialah pemuda timur segak bergaya
bermafela.
……
……
Okeylaah...
pemuda itu bernama Dahri Zakaria
sekarang berjawatan administrator di "berbicara"
sekali ni baru geger
sebab Dahri bijak berceloteh sastera
kita doakan sukses untuknya.

Hasimah Harun pada 18.1.04 terus menulis sajen ‘ ASEREHE AIRMAS ‘ untuk mengalu-alukan perlantikan Airmas-sz sebagai administrator Poets dengan katanya:

Satu, dua, tiga, empat
administrator baru kita dapat
nyanyi aserehe kuat-kuat
serentak nada sederap rapat.
Aserehe Damahum, Dahrie, Arisel, Abdullatip, Airmas!
sekalung tahniah seharum cempaka
maju haiku, maju berbicara, maju sajen, maju cerpenis, maju poets
Aserehe eSastera, Aserehe Malaysia!

Pada 19.1.04. muncul kembali Muhd. Zakir dengan sajen di luar dari dunia bujaknya iaitu ‘ BERSAMA DRIRWAN DALAM HUTAN ‘ dengan berkata:

Alam buana sejuk nyaman indah suasana,
Menghijau harum bukit bukau sungainya jernih,
Berkampung MuhammadZakir dengan Drirwan di lembah kedinginan,
Bentong Eco Resort mesranya taman setaman,

Drirwan makan dengan penuh berseleranya,
Masakan ala kampung sedap sungguh tidak tertoleh,
MuhammadZakir sibuk pula mencari pasangan hidup,
Drirwan tidak sedar kerana sibuk makan dan minum,

Pada 21.1.04 Hasimah menulis lagi sebuah sajen yang agak menarik dengan jodol ‘ JDM 86 ‘ iaitu nombor plat kereta Dr Irwan dengan isu kecelaruan, tulisnya:

Jam lima tadi petang Drirwan memasuki get utama UM
pengawal misai melintang arahkan Drirwan ke tepi
ke tepi?
tercengang Drirwan jadi tak pasti
pengawal tadi arah ke tepi sekali lagi
lagi Drirwan tercengang tapi
dia terus ke tepi patuh perintah
pengawal manis wajah tersenyum lebar
terperasan tersilap menyuruh Drirwan memandu ke tepi
cepat-cepat pengawal manis wajah
memberi isyarat untuk Drirwan
meluncur ke destinasi ke mana saja ke dalam UM.

“Tak apalah, kereta kita tak ada sticker
mereka melaksanakan tugas.”

Pada 25.1.04 muncul Airmas_sz dengan sajen dengan bentuk syair ‘Malam ini tidur seorang’ yang mengisahkan keresahan seorang isteri bila sunyi ditinggal suami, katanya:

Malam ini tidur seorang
Fikiranku melayang-layang
Dimanakah dikau abang
Dibawa lari si budak bujang

Budak bujang terlajak jalan
Masih belum berpasang-pasangan
Inilah yang membuat hatiku risau
Silap gayanya mendapat sasau

Demi tugas abang turutkan
Memohon jalan perlahan-lahan
Bawa abang pergi kehutan
Bina semangat dalam urusan

Pada 27.1.04 Muhd. Zakir menyambung kisah bujaknya dengan sajen ‘Panglima Bengis Asyik Berzapin ‘ dan beliau menulis:

Panglima Bengis Sungguh sudah gila dan mabuk,
Selepas solat Isyak kakinya asyik menari-nari,
Apa sudah jadi dengan Panglima Bengis Sungguh,
Rahsianya...,

Panglima Bengis Sungguh sudah tertawan,
Tarian 'Zapin Johor' dia asyik sekali menari,
Angkara anak-anak buahnya dari Johor,
Mengajarnya menari atur gerak langkah zapin berzapin,
Irama Arab dan Melayu bersatu dengan kekemasan tarian,
Panglima Bengis Sungguh berzapin dari malam sehingga dinihari,
Keningnya naik turun kerana dikelilingi lapan dara jelita,
Muar, Pontian, Segamat, Kluang, Batu Pahat, Johor Bharu dan seluruh Johor,
Ada yang berdarah Jawa,
Ada yang berdarah Banjar,
Ada yang berdarah Bugis,
Ada yang berdarah Arab,
Ada yang berdarah India,
Ada yang berdarah Cina,
Jelita sungguh menari lenggok zapin bersama Panglima Bengis Sungguh,

Pada 27.1.04 muncul Abdul Latip dengan sajen ‘ MDZAKIR KE HUTAN PAHANG MENCARI JODOH BAHAGIAN PERTAMA ‘ yang berkisart usikan kepada si bujak Muhd Zakir, katanya:

Di Bentong sekali lagi Mdzakir bermadah
" Hati saya dah lama terpikat."
" Pada siapa?" Drirwan bertanya
" JDM 86, Oh cantiknya…"

Pada 30.1.04 pula Abdul Atan Din menulis sajen ‘ KAIS-KAIS KAKI AYAM ‘ yang mengisahkan mengenai sup kaki ayam, katanya:

kais-kais kaki ayam
seribu rempah
seperiuk aroma
lazat mengapung
empuk daging
enak kuah

kais-kais kaki ayam
sup kaki ayam juga yang kau jamah!

Dan pada 31.1.04, tiba-tiba muncul Tareht membawa angina kelainan dalam sajennya ‘ Buat Lawak ‘ walaupun bahasanya serius, tetapi tersembunyi humor yang bijaksana, tulisnya:

dikilas
dibengkok
dipulas
dipeluk
lidah terjelir

dia tidak puas hati
mana mungkin ini terjadi
dia mesti cuba lagi
berkali-kali

dikilas
dibengkok
dipulas
dipeluk
lidah terjelir

ahhh!
ini misteri antara misteri
dia masih tidak puas hati

dikilas
dibengkok
dipulas
dipeluk
lidah terjelir

akhirnya dia
menyerah diri
sahih!
memang mustahil
untuk menjilat
siku sendiri

Rumusan yang saya dapati bahawa 19 buah sajen yang ditulis dalam masa 19 hari ini masih polos, kecuali Tareht yang berjaya membawa kelainan dan kepolosan. Walaubagaimanapun diksi yang dipilih oleh Tareht amat serius bahasanya yang lambat bagi kita mengesan di mana letak humornya. Walaubagaimanapun saya mengucapkan syabas dan tahniah kepada sembilan pensajen yang lain yang membungai laman Sajen ini dengan sajen-sajen mereka. Teruskan menulis sajen.

PENUTUP:

Dalam prakata, saya meminjam kata Dr Muhamad Haji Salleh, maka sebagai penutup tanggapan kali ini saya memetik kata beliau dari buku yang sama (hlm.143) agar boleh menjadi renungan kita bersama: “ Sastera kita kurang melihat watak lainnya cara terperinci. Esentrik kampong tidak timbul dan jarang diambil walaupun sebagai pembanding. Tiada bomoh yang berkuasa di dunia magis dan tiada juga penjual kain yang menyusur jalan kampong di akhir bulan. Jarang kita temui guru-guru agama yang bercakap bahasa Arab yang diterjemahkan atau pemanjat kelapa yang sebesar Mat Jenin mitos dan alegorinya. Saya kira saya berlaku adil jika saya katakan bahawa terlalu ramai watak-watak kita agak stereotaip dan beracuan. Mereka tidak dibebaskan untuk mengikut peribadi dan rasa hati sendiri, tetapi dikongkong oleh sempadan dan kebiasaan dalam novel.”

Allah Juga Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, kekurangan yang wujud dalam tanggapan di atas adalah kelemhan saya sebagai seorang manusia Hamba Allah.

Sekian.

2 Februari 2004
Kuantan, Pahang




Sunday, February 01, 2004
 
PAMFLET DARUL MAKMUR
Puisi Arisel Ba

Di era Zamin Eran dan Inderapura
Laut Cina Selatan mengasuh gelora
Pulau Tioman mengukir lagenda
Tasik Cini dan Tasik Bera destinasi wisata
Sungai Pahang, Jelai, Tembeling deras arusnya
Pantai Cerating, Teluk Cempedak indah pantainya
Gunung Tahan, Gunung Benom berdegap gagah
Gua Kota Gelanggi, Gunung Senyum misteri berkisah
Kuala Lipis, Cenor, Pekan menitip sejarah berdarah

Pahlawan Pahang sejarahnya menggegar
Bahaman, Tok Gajah, Mat Kilau, Panglima Muda Jempol tersohor
Di era British dituduh penjajah sebagai penentang
Ibrahim Yaakub, Ishak Haji Muhammad terbilang
Pemikir dan pujangga pra-merdeka gemilang
Tun Abdul Razak, Abdul Rahman Talib putera kemajuan
Pejuang patriotik akitek pendidikan berwawasan
S.Romainor, Sarimah, Sudirman, Siti Nurhaliza
Bintang seniman tersohor menjadi idola
Ahmad Kotot, Keris Mas, Ibrahim Omar berjasa
Sasterawan terkenal berani jana budaya bangsa

Teguklah, mandilah air Sungai Pahang hulunya
Jelai, Tembeling, Lipis, Semantan berlondar naga
Menjenguk tragis Lubuk Terua, Pulau Tawar, Gunung Lintang
Bernostalgia di Bukit Gebuk, Lubuk Pelang, Lubuk Mentenang
Menjengah Bukit Betong, Bukit Jong, Pahang Tua, Gancong
Menjelau sejarah Jeram Ampai, Jeram Koi, Dusun Pinang
Bukit Segumpal, Lubuk Paku, Lamir dan Langgar bercerita
Mandilah air dingin Tasik Cini dan Tasik Bera
Mendaki ke Gunung Benom dan Gunung Tahan dengan gapa
Di Gunung Senyum dan Gua Kota Gelanggi merenung makrifat
Di Guai, Lubuk Kawah dan Berhala Gantang berguru hakikat

Mari limaukan keris lembing tirkah, kemenyan seruan
Demi Islam, roh Melayu tanah Darul Makmur yang hana
Menentang penjajah era globalisasi tanpa sempadan
Setiap hari memancar khabar warga di cakrawala
Tujuh taufan dari tujuh lautan, empat penjuru angin
Darul Makmur berdegap gagah di persada buana
Darul Makmur dalam sejarah ternama

8 September 2001 – 1 Febrauri 2004, Kuantan, Pahang


Powered by Blogger